Detail Berita

Inovasi “OSITEL” (Olahan Si Telang)

Sabtu, 29 Agustus 2026 14:54 WIB
0 |   -

Inovasi “OSITEL” (Olahan Si Telang)

Juniaty Simanullang, S.Pd

 

 

SMA Negeri 3 Waingapu, yang dikenal sebagai SMANTIG INOLINK BERSINAR, menghadapi tantangan kekeringan dan keterbatasan lahan seluas 5.670 m² dengan kondisi tanah berbatu dan gersang. Namun, sekolah ini berhasil mengubahnya menjadi lingkungan hijau. Sebagai Kepala Sekolah, saya meyakini bahwa inovasi lahir dari keterbatasan. Bunga Telang menjadi bukti bahwa ketahanan pangan sederhana dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan, pembelajaran, dan lingkungan ekologi. Penanaman bunga Telang ungu yang indah tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi bahan utama dalam produksi minuman sehat OSITEL. Sebagai solusi, saya bersama tim GTK menciptakan inovasi OSITEL (Olahan Si Telang), memanfaatkan bunga Telang (Clitoria ternatea) yang mudah tumbuh dan berbunga setiap hari tanpa bergantung pada musim. Bunga Telang ditanam di seluruh area sekolah, termasuk di terowongan hijau di gerbang, guna menciptakan lingkungan asri serta mengurangi panas.

Menurut pemikiran saya , “Program ini tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga mengajarkan peserta didik pentingnya kewirausahaan berbasis lokal dan hidup sehat.” OSITEL menghadirkan berbagai produk sehat seperti minuman alami “Si Telang,” Es Gabus Telang, serta kudapan dengan pewarna alami sebagai alternatif minuman instan yang sebelumnya banyak dikonsumsi peserta didik. Berdasarkan data kantin dan koperasi sekolah, sebanyak 12.830 gelas minuman instan terjual dalam tiga bulan terakhir tahun 2022, setara dengan rata-rata 24 gelas per peserta didik per bulan. Kebiasaan ini berisiko bagi kesehatan dan berpengaruh pada aktivitas belajar di kelas. Kini, OSITEL menjadi produk unggulan yang dijual di koperasi dan kantin sekolah, dengan OSIS sebagai penggerak utama mulai dari penanaman hingga pemasaran. Hasilnya, konsumsi makanan dan minuman instan di sekolah berkurang sebesar 65% dalam enam bulan setelah program diluncurkan. Salah satu peserta didik, Rambu Ana, calon Miss Nusantara kelas XII IPA1, menyatakan, “Kami jadi lebih sadar memilih minuman sehat. ‘Si Telang’ terasa segar dan lebih baik untuk tubuh dibandingkan minuman instan. Produk OSITEL akan saya promosikan di ajang Fashion Show.”

Keberhasilan OSITEL tidak hanya menciptakan alternatif pangan sehat bagi peserta didik, tetapi juga mendukung pembelajaran berbasis kewirausahaan, meningkatkan kesadaran kesehatan, serta mempromosikan produk lokal seperti Stick Daun dan Bunga Telang serta Kopi Telang yang telah memperoleh izin BPOM, menjadikannya oleh-oleh khas bagi tamu lokal dan internasional. Inovasi OSITEL di SMANTIG BERSINAR memberikan dampak signifikan dalam membentuk kebiasaan warga sekolah untuk mengonsumsi pangan sehat melalui gerakan gaya hidup sehat di komunitas sekolah.

Transformasi lahan gersang menjadi hijau berkat penanaman bunga Telang menciptakan Laboratorium Alam. Melalui program ini, peserta didik tidak hanya belajar teori di kelas tetapi juga terlibat langsung dalam budidaya ketahanan pangan, pengolahan, serta pemasaran produk. Pembelajaran menjadi lebih relevan dalam praktik mata pelajaran Kimia serta penelitian Karya Ilmiah Remaja (KIR). Para peserta didik juga dilatih menjadi wirausahawan muda yang kreatif dan mandiri, dengan keterampilan dalam manajemen produksi, pemasaran, dan keuangan guna berkontribusi terhadap ekonomi lokal dan kewirausahaan.

Sebagai warisan budaya kuliner, OSITEL menjadi promosi produk pangan sehat lokal yang dikenal secara luas. Program ini dijadikan alat kampanye “bangga dan cinta produk lokal sehat alami,” yang akan dibawa oleh Rambu Ana ke ajang nasional dan oleh Stenly Umbu Tego, Duta Kebudayaan Indonesia tahun 2025, ke Thailand dan Singapura. Program OSITEL terdiri dari tiga tahap utama: (1) Penanaman, setiap kelas wajib menanam 36 tanaman (one man one telang), dengan GTK serta orang tua peserta didik menanam di rumah masing-masing guna memperluas dampaknya. (2) Pemanenan dilakukan secara terjadwal untuk memastikan pasokan bunga dan daun segar. (3) Pengolahan produk dilakukan oleh tim khusus saat P5 dan mata pelajaran PKU, menghasilkan berbagai kudapan sehat seperti Labu Telang, Donat, Cilok, Mochi, dan Nasi Telang yang dikonsumsi saat sarapan sehat setelah senam Pancasila. Biji Telang diolah menjadi kopi sesuai standar keamanan pangan. Proses produksi melibatkan guru Biologi, Kimia, dan PKW yang telah mendapatkan pelatihan keamanan pangan dari Dinas Kesehatan dan BPOM Sumba Timur serta sertifikasi Jasa Boga dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Keuntungan dibagi secara transparan untuk mendukung pembelajaran berbasis kewirausahaan serta pemberdayaan ekonomi komunitas sekolah.

Program OSITEL bukan sekadar inovasi panga1n, tetapi juga implementasi nyata Kurikulum Merdeka melalui proyek P5 bertema "Kearifan Lokal, Kewirausahaan, dan Gaya Hidup Berkelanjutan." Program ini memperkuat Profil Pelajar Pancasila dengan menanamkan nilai-nilai seperti kemandirian, gotong royong, bernalar kritis, kreativitas, serta kebhinekaan global. Peserta didik juga dilatih dalam pemasaran dan manajemen keuangan hasil penjualan produk, sehingga memahami pentingnya pengelolaan keuangan dengan baik.

Keberhasilan OSITEL mengangkat citra SMAN 3 Waingapu sebagai sekolah inovatif dan peduli lingkungan. Program ini menjadi inspirasi bagi sekolah lain seperti SMPN 3 dan SMP PGRI Waingapu dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Mahasiswa Unkriswina Sumba jurusan Agrobisnis turut mengembangkan produk OSITEL sesuai potensinya, sementara School Hospitality Foundation (SHF) di Sumba Barat Daya serta PKK Kelurahan juga meminta tim OSITEL menjadi narasumber dalam pelatihan yang difasilitasi BPM Sumba Timur. Dukungan dari Dekranasda Sumba Timur, PLN Peduli, dan PT Pegadaian membantu intervensi kemasan ramah lingkungan serta pemasaran produk.

Dampak program ini terbukti dengan penurunan konsumsi makanan dan minuman instan sebesar 65% dalam enam bulan, perubahan perilaku 847 peserta didik serta 61 GTK dan petugas layanan sekolah. Selain itu, peningkatan pendapatan OSIS melalui koperasi sekolah menunjukkan keberhasilan OSITEL dalam memberikan nilai ekonomi. Pengakuan atas keberhasilan program ini ditandai dengan penghargaan dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Tingkat Provinsi NTT.

Kolaborasi dan keberlanjutan OSITEL dengan berbagai mitra menunjukkan bahwa program ini tidak hanya berkontribusi pada pembangunan daerah dan ekonomi kreatif, tetapi juga merupakan simbol pendidikan berbasis kesehatan yang nyata. Dengan memanfaatkan bunga Telang sebagai bahan utama, OSITEL mengajarkan pemahaman tentang rantai produksi dari riset hingga pemasaran, serta mengintegrasikan kewirausahaan dalam pendidikan formal melalui kerja sama dengan institusi seperti Unkriswina Sumba dalam bidang Agrobisnis dan Pendidikan Biologi.

Keberlanjutan program OSITEL di SMAN 3 Waingapu bertumpu pada tiga pilar utama: strategi institusional, manajerial, dan sosial. Dari segi institusional, sekolah menetapkan OSITEL sebagai bagian dari transformasi inovasi pangan sehat di sekolah-sekolah Sumba Timur dalam program nasional GSS (Gerakan Sekolah Sehat) untuk makan siang gratis. Program ini diharapkan menjadi alternatif nutrisi dalam upaya pencegahan stunting di NTT, dengan membangun jaringan bersama pihak terkait guna melakukan riset serta pengembangan produk berbasis bunga telang yang memiliki nilai gizi lebih tinggi dan disukai melalui pelatihan berkelanjutan bagi tim OSITEL.

Dalam aspek manajerial, tata kelola yang terstruktur serta partisipasi aktif seluruh elemen sekolah, mulai dari guru hingga peserta didik, diterapkan untuk memanfaatkan teknologi informasi guna meningkatkan efisiensi produksi, pemasaran, serta pengelolaan program. Sementara itu, dalam aspek sosial, OSITEL berperan sebagai sarana pemberdayaan komunitas sekolah untuk mendukung budaya hidup sehat dan ramah lingkungan. Peningkatan jumlah produk yang dihasilkan, ekspansi jaringan pemasaran, serta meningkatnya partisipasi siswa menjadi indikator perkembangan program ini. Setiap tahun, OSITEL terus memperbarui varian snack yang sesuai dengan selera generasi Z melalui layanan konsumen daring. Selain itu, identifikasi terhadap ancaman potensial yang dapat menghambat keberlanjutan program, seperti kebijakan pemerintah, fluktuasi harga bahan baku, serta pergantian personel sekolah, dilakukan melalui pelatihan keamanan pangan berbasis SOP secara bergilir sesuai program dari Dinas Kesehatan, serta regenerasi pemberdayaan peserta didik di setiap jenjang.

Sosialisasi OSITEL dilakukan secara langsung serta dipublikasikan melalui berbagai platform seperti YouTube, Instagram, dan Facebook, serta menjalin kerja sama dengan media Time Indonesia. Dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek kesehatan, pendidikan berkualitas, serta produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab, OSITEL membuktikan bahwa inovasi tidak mengenal batas dan dapat menjadi instrumen dalam menghadapi tantangan global. Dari sebuah sekolah di daerah pinggiran Sumba Timur, lahir sebuah gerakan yang menginspirasi kepedulian terhadap lingkungan, kesehatan, dan masyarakat. Tindakan yang dilakukan saat ini akan menentukan masa depan generasi berikutnya. SMAN 3 Waingapu telah membuktikan bahwa semangat kolektif mampu menjadikan sekolah sebagai pusat perubahan positif yang memberikan dampak luas.


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini